Selasa, 27 November 2012

TEORI HUMANISTIK CARL ROGERS


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Carl Rogers lahir pada tanggal 8 januari 1902, di oak park, Illionis, sebuah daerah pinggiran Chicago. Ia anak keempat dari enam bersaudara. Ayahnya adalah insinyur teknik sipil yang sukses. Ibunya adalah  seorang ibu rumah tangga pemeluk Kristen yang taat. Semenjak kecil, Rogers nampak cerdas ia sudah bisa membaca sebelum usia TK, maka dari itu ia tidak perlu masuk TK lagi namun langsung masuk SD.
Teori Rogers didasarkan pada prinsip humanistik bahwa jika orang diberi kebebasan dan dukungan emosional untuk bertumbuh, mereka bisa berkembang menjadi manusia yang berfungsi secara penuh. Tanpa kesamaaan atau pengarahan, tetapi didorong dengan lingkungan yang menerima dan memahami situasi terapeutik, orang akan memecahkan masalahnya sendiri dan berkembang menjadi jenis individu yang mereka inginkan.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana riwayat hidup dari Carl Rogers?
2.      Bagaimana pandangan Carl Rogers mengenai psikologi?
3.      Bagaimana konsep Rogers terhadap pemikirannya?
4.      Seperti apa teori yang dikembangkan Carl Rogers?
5.      Bagaimana peran teori Rogers terhadap perkembangan?
6.      Apa aplikasi teori humanistik terhadap pembelajaran siswa?

C.    TUJUAN
1.      Mengetahui riwayat hidup Carl Rogers.
2.      Mengetahui Carl Rogers mengenai psikologi.
3.      Mengetahui teori yang dikembangkan oleh Carl Rogers.
4.      Mengetahui teori yang dikembangkan Carl Rogers.
5.      Mengetahui peran teori Rogers terhadap perkembangan.
6.      Mengetahui  teori humanistik terhadap pembelajaran siswa.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Profil Carl Rogers
Carl Rogers lahir pada tanggal 8 januari 1902, di oak park, Illionis, sebuah daerah pinggiran Chicago. Ia anak keempat dari enam bersaudara. Ayahnya adalah insinyur teknik sipil yang sukses. Ibunya adalah  seorang ibu rumah tangga pemeluk Kristen yang taat. Semenjak kecil, Rogers nampak cerdas ia sudah bisa membaca sebelum usia TK, maka dari itu ia tidak perlu masuk TK lagi namun langsung masuk SD.
Saat berusia 12 tahun, keluarganya pindah ke sebuah daerah pertanian 30 mil sebelah timur Chicago. Ditempat ini ia menghabiskan masa remajanya. Selama itu ia mendapatkan pendidikan yang keras dan kegiatan yang padat. Dengan keadaan ini Rogers memiliki kepribadian yang agak terisolasi tetapi menjadi yang independen dan sangat disiplin.
Rogers masuk University of Wisconsin mengambil jurusan pertanian. Kemudian ia beralih mempelajari agama dan bercita-cita menjadi pendeta. Dia pernah dipilih menjadi salah satu dari 10 mahasiswa yang mendapat kesempatan menghadiri Konferensi Mahasiswa Kristen sedunia di Beijing 6 bulan lamanya. Atas keikutsertaanya dan berdasarkan pengalamannya yang baru ini bisa memperluas pemikirannya, akhirnya ia mulai meragukan beberapa pandangan yang menjadi dasar agama.
Selama kuliah ia mengenal gadis bernama Helen Elliot. Meski pertemanannya sempat ditentang oleh orangtuanya, setelah lulus Rogers tetap tetap menikahi Helen. Kemudian mereka pindah ke kota New York dan mengajar di Union Theological Seminary, sebuah institusi keagamaan liberal yang cukup terkenal.  Pada saat memberikan kuliah, Rogers menyarankan agar mahasiswanya membuat diskusi kelas dengan tema “Kenapa saya mau jadi pendeta?” dia menyatakan, “kalau anda sebagai mahasiswa tidak ingin kehilangan pekerjaan, jangan ambil kelas dengan pembahasan seperti ini.” Ternyata hasilnya mereka menganggap alasan mereka sudah berdasarkan teks-teks keagamaan.
Sungguh dramatis, ternyata Rogers sempat kehilangan keyakinan terhadap agama, ini tentu saja merupakan persoalan psikologis pada dirinya. Oleh karena itu Rogers kemudian masuk ke program Psikologi Klinis di Columbia University dan menerima gelah Ph.D tahun 1931. Lalu melakukan praktik di Lembaga Masyarakat Rochester untuk mencegah kekerasan terhadap anak-anak.
Pada tahun 1940 dia menjabat profesor penuh di Negara bagian Ohio. Tahun 1942 ia menulis buku pertamanya, berjudul counseling and psychoterapy. Tahun 1945 ia diundang untuk mendirikan pusat konseling di University of Chicago. Saat bekerja disinilah bukunya yang sangat terkenal Client-centered Therapy diterbitkan, yang memuat garis besar teori terapinya. Bentuk terapi ini sangat terkenal di Amerika Serikat, dan digunakan dalam usaha memperbaiki kepribadian manusia dalam berbagai situasi.
Tahun 1957 ia kembali mengajar di University of Wisconsin. Pada saat itu terjadi konflik internal dalam fakultas psikologi, dan rogers merasa sangat kecewa dengan sistem pendidikan tinggi yang dia tangani. Tahun 1967  dengan senang hati ia menerima posisi sebagai peneliti di La Jolla, California. Di sini dia memberikan terapi, ceramah-ceramah, dan menulis karya-karya ilmiah sampai akhir hayatnya ditahun 1987.
Titik balik kehidupan Rogers
Pada tahun 1920, saat Rogers berusia 18 tahun, ia singgah di Peking Cina, sebagai seorang delegasi untuk konferensi mahasiswa kristen Internasioanal. Selama persinggahan kurang lebih 6 bulan, terjadi perubahan-perubahan penting pada dirinya. Di sana, ia mengalami sesuatu yang akan menentukan bentuk dan hakikat dari pendekatannya terhadap kepribadian.
Sebelumnya, pendidikan Rogers bercirikan agama Kristen fundamentalis yang ketat dan tak suka berkompromi dengan suatu tekanan pada tingkah laku moral yang tepat dan kebajikan kerja keras. Ajaran-ajaran agama dari orangtuanya sangat mempengaruhinya sepanjang kanak-kanak dan masa remaja, an tidak goyah ketika ia memasuki perguruan tinggi. Karena itu, meski awalnya ia kuliah di bidang pertanian, lalu akhirnya memutuskan dalam tahun kedua untuk mengandikan kehidupannya bagi ‘karya-karya Kristen’ dengan menjadi seorang pendeta.
Tahun 1921, Rogers dipilih lagi untuk mengahadiri Konferensi Federasi Mahasiswa Kristen Sedunia di Cina. Konferensi itu membuka wawasannya dalam banayk aspek. Dia menemukan suatu bagian penting dalam perjalanannya ke sisi lain dari dunia. Rogers yang pada masa SMA-nya agak terisolasi, kini berubah secara drastis menjadi terbuka kepada orang-orang dari bermacam latar belakang intelektual dan kultural yang ide-ide dan penampilan serta bahsa mereka yang semual asing baginya. Di Cina, ketika ia berbicara delegasi-delegasi mahasiswa lain, dia mulai terpengaruh oleh ide-ide mereka. Kepercayaan-kepercayaan fundamentalisnya yang kuat serasa ditembus, dilemahkan, dan akhirnya dibuang.
Rogers mencatat pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya pada waktu itu dalam suatu catatan harian. Dia mengirim salah satu salinannya kepada kekasihnya, Helen dan salinan lainnya kepada orangtuanya. Dari hari ke hari, dia terus mencatat dan mengirim pikirannya itu yang bertambah lama bertambah banyak. Di rumah, orangtuanya menjadi sangat kuatir terhadap isi suratnya yang panjang., tetapi Rogers tidak mengetahui apa-apa akan bahaya yang disebabkannya. Hal ini karena jawaban surat dari orangtuanya di Anerika Serikat terlambat dia terima. Keterlambatan itu lamanya dua bulan, sebelum reaksi orangtuanya terhadap surat yang pertama sampai kepadanya.
Salah satu akibat dari pengalaman Rogers mengikuti konferensi di Cina adalah putusnya ikatan-ikatan agama dan intelektual dengan orangtuanya, dan munculnya kesadaran bahwa ia merasa merdeka. Di dalam tulisannya “Autobiography” Rogers mengatakan, “saya dapat berpikir menurut-menurut pikiran-pikiran saya sendiri, sampai kepada kesimpulan-kesimpulan saya sendiri, dan menjadi saksi terhadap kepercayaan saya sendiri.” Kebebasan yang baru diperoleh ini, serta perasaan keyakinan dan arah yang diberikannya menyebabkan ia sadar bahwa akhirnya seseorang harus berdansar pada pengalamannya sendiri. Kepercayaan dan keyakinan akan pengalaman diri sendiri menjadi sendi pendekatan Rogers terhadap kepribadian

B.     Pandangan Rogers
Pandangan rogers secara esensial disusun oleh persepsi. Bagi rogers objek utama dari kajian psikologi adalah manusia dan dunia yang dipandang oleh manusia itu. Menurut rogers, oleh karena itu, kerangka fenomenologis internal dari referensi individual akan membentuk dasar psikologi yang tepat. Yang dapat dikaji terutama oleh hukum-hukum yang mengatur persepsi.
Rogers memandang manusia sebagai bentuk-bentuk dari konsep dirinya (self concept) dan pengalaman di satu sisi, dan interpretasinya tentang stimulus lingkungan pada sisi yang lain. Inilah tingkatan kongruensi antara faktor-faktor tersebut  yang mempengaruhi perluasan aktualisasi diri yang terjadi. Rogers beragumentasi bahwa perubahan-perubahan dalam persepsi diri dan persepsi atas realitas menghasilkan perubahan yang serentak dalam perilaku dan hal itu memberikan kondisi psikologis tertentu bagi seseorang sehingga mempunyai kapasitas untuk mereorganisasi bidang persepsinya., termasuk bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Hal yang sangat penting adalah ancaman terhadap konsep diri, sebab diri biasanya menolak memasukkan pengalaman yang tidak konsisten dengan fungsinya. Maka rogers berpendapat bahwa ketika diri dipandang bebas dari ancaman serangan, maka diri mungkin akan menjawab persepsi yang bertolak dan mengintegrasikannya kembali diri dalam dalam cara yang sedemikian rupa hingga menjadi bagian darinya.
Ia menganggap terapi sebagai suatu proses yang di dalam individu memiliki kesempatan untuk mengorganisasi kembali dunia subjektifnya (the subjective world), dan untuk mengintegrasikan dan mengaktualisasikan diri. Dengan demikian, ia memandang proses utama dari terapi adalah memfasilitasi pengalaman individu untuk menjadi individu yang lebih otonom, spontan, percaya diri.
Meskipun demikian, ketika desakan potensi aktualisasi diri, ketika desakan potensi aktualisasi diri ada dalam diri seseorang, Rogers menyatakan bahwa kondisi-kondisi yang yang dapat memfasilitasi perkembangannya terdapat pada hubungan seseorang dengan ahli terapi, dan terjadi melalui hubungan yang dekat, hangat secara emosional dan saling pengertian dimana individu bebas dari ancaman dan memiliki kebebasan untuk menjadi “diri yang sesungguhnya”.
Saya sapat menetapkan keseluruhan hipotesis dalam satu kalimat, sebagai berikut: Jika saya dapat melakukakan suatu jenis hubungan tertentu, orang lain akan menemukan dalam dirinya kapasitas untuk tumbuh, dan berubah, serta perkembangan pribadi akan terjadi. (Rogers, 1961, hlm.33).
Jenis hubungan yang dimaksud oleh rogers ini memiliki tiga kualitas khusus yang penting, pertama adalah antusias atau kemurnian dari para ahli terapi. Untuk mencapai hal itu ahli terapi harus sadar perasaanya sendiri, sejauh yang mungkin dilakukan, dan tidak menunjukkan sikap kepura-puraan, jika mungkin dapat mengekspresikan berbagai sikap dan perasaan. Kondisi kedua dari hubungan terapeutik adalah memandang positif kondisi yang tidak sama (unconditional positiv regard) kepada klien, memberi harga dan nilai kepada seseorang sebagai seorang individu yang terlepas dari kondisinya, perilaku dan perasaan, respek terhadap seseorang, dan penerimaan terhadap seseorang karena kebenaran yang dimilikinya. Kondisi ketiga dari hubungan itu adalah pengertian empatis atau mendengarkan secara tulus keinginan yang terus meenerus untuk memahami perasaan dan makna pribadi yang dialami seseorang.
Jadi hubungan bermanfaat ini dicirikan sikap keterbukaan saya, dalam hal ini perasaan saya adalah tampak jelas, karena penerimaan terhadap orang lain ini sebagai orang yang terpisah dengan nilai kebenaran miliknya sendiri dan dengan pengertian empatis yang mendalam yag memungkinkan saya melihat dunia pribadinya melalui tatapan matanya. Pada saat kondisi-kondisi ini tercapai, saya menjadi kawan bagi klien saya, menemaninya dalam ketakutan mencari dirinya sendiri, kini dia merasakan bebas melakukannya.
C.    Konsep prinsip Pemikiran Rogers
Adapun penjelasan konsep masing-masing prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Hasrat untuk Belajar
Menurut Rogers, manusia mempunyai hasrat alami untuk belajar. Hal ini terbukti dengan tingginya rasa ingin tahu anak apabila diberi kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan. Dorongan ingin tahu untuk belajar ini merupakan asumsi dasar pendidikan humanistik. Di dalam kelas yang humanistik anak-anak diberi kesempatan dan kebebasan untuk memuaskan dorongan ingin tahunya, untuk   memenuhi minatnya dan untuk menemukan apa yang penting dan berarti tentang dunia di sekitarnya.
b.      Belajar yang Berarti
Belajar akan mempunyai arti atau makna apabila apa yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dan maksud anak. Artinya, anak akan belajar dengan cepat apabila yang dipelajari mempunyai arti baginya.
c.       Belajar Tanpa Ancaman
Belajar mudah dilakukan dan hasilnya dapat disimpan dengan baik apabila berlangsung dalam lingkungan yang bebas ancaman. Proses belajar akan berjalan lancer manakala murid dapat menguji kemampuannya, dapat mencoba pengalaman-pengalaman baru atau membuat kesalahan-kesalahan tanpa mendapat kecaman yang bisaanya menyinggung perasaan.
d.      Belajar atas Inisiatif Sendiri
Belajar akan paling bermakna apabila hal itu dilakukan atas inisiatif sendiri dan melibatkan perasaan dan pikiran si pelajar. Mampu memilih arah belajarnya sendiri sangatlah memberikan motivasi dan mengulurkan kesempatan kepada murid untuk “belajar bagaimana caranya belajar” (to learn how to learn ). Tidaklah perlu diragukan bahwa menguasai bahan pelajaran itu penting, akan tetapi tidak lebih penting daripada memperoleh kecakapan untuk mencari sumber, merumuskan masalah, menguji hipotesis atau asumsi, dan menilai hasil. Belajar atas inisiatif sendiri memusatkan perhatian murid baik pada proses maupun hasil belajar. Belajar atas inisiatif sendiri juga mengajar murid menjadi bebas, tidak bergantung, dan percaya pada diri sendiri. Apabila murid belajar atas inisiatif sendiri, ia memiliki kesempatan untuk menimbang-nimbang dan membuat keputusan, menentukan pilihan dan melakukan penilaian. Dia menjadi lebih bergantung pada dirinya sendiri dan kurang bersandar pada penilaian pihak lain.
Di samping atas inisiatif sendiri, belajar juga harus melibatkan semua aspek pribadi, kognitif maupun afektif. Rogers dan para ahli humanistik yang lain menamakan jenis belajar ini sebagai whole-person-learning belajar dengan seluruh pribadi, belajar dengan pribadi yang utuh. Para ahli humanistik percaya, bahwa belajar dengan tipe ini akan menghasilkan perasaan memiliki (feeling of belonging ) pada diri murid. Dengan demikian, murid akan merasa terlibat dalam belajar, lebih bersemangat menangani tugas-tugas dan yang terpenting adalah senantiasa bergairah untuk terus belajar.
e.       Belajar dan Perubahan
Prinsip terakhir yang dikemukakan oleh Rogers ialah bahwa belajar yang paling bermanfaat ialah bejar tentang proses belajar. Menurut Rogers, di waktu-waktu yang lampau murid belajar mengenai fakta-fakta dan gagasan-gagasan yang statis. Waktu itu dunia lambat brerubah, dan apa yang diperoleh di sekolah sudah dipandang cukup untuk memenuhi tuntutan zaman. Saat ini perubahan merupakan fakta hidup yang sentral. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi selalu maju dan melaju. Apa yang dipelajari di masa lalu tidak dapat membekali orang untuk hidup dan berfungsi baik di masa kini dan masa yang akan dating. Dengan demikian, yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang mampu belajar di lingkungan yang sedang berubah dan akan terus berubah
D.    Teori Rogers
Teori Rogers didasarkan pada prinsip humanistik bahwa jika orang diberi kebebasan dan dukungan emosional untuk bertumbuh, mereka bisa berkembang menjadi manusia yang berfungsi secara penuh. Tanpa kesamaaan atau pengarahan, tetapi didorong dengan lingkungan yang menerima dan memahami situasi terapeutik, orang akan memecahkan masalahnya sendiri dan berkembang menjadi jenis individu yang mereka inginkan.
Rogers mengatakan bahwa tiap-tiap dari individu memiliki dua self/diri. Diri yang kita rasakan sendiri (“I” atau “me” yang merupakan persepsi kita tentang diri kita sesungguhnya “real self”)dan diri kitayang ideal/diinginkan “ideal self” (yang kita inginkan). Rogers (1961) megajarkan bahwa masing-masing dari kita adalah korban dari conditional positive regard (memberikan cinta, pujian, dan penerimaan jika individu mematuhi norma orang tua atau norma social) yang orang lain tunjukkan kepada kita. Kita tidak bias mendapatkan cinta dan persetujuan orang tua atau orang lain kecuali bila mematuhi norma social dan aturan orang tua yang keras. Kita diperintahkan untuk melakukan apa yang harus kita lakukan dan kita pikirkan. Kita dicela, disebutkan nama, ditolak, atau dihukum jika kita tidak menjalani norma dari orang lain. Sering kali kita gagal, dengan akibat kita mengembangkan penghargaan diri yang rendah, menilai rendah diri sendiri, dan melupakan siapa diri kita sebenarnya.
Rogers mengatakan bahwa jika kita memiliki citra diri yang sangat buruk atau berperilaku buruk, kita memerlukan cinta, persetujuan, persahabatan, dan dukungan orang lain. Kita memerlukan unconditional positive regard (member dukungan dan apresiasi individu tanpa menghiraukan perilaku yang tak pantas secara social), bukan karena kita pantas mendapatkannya, tapi karena kita adalah manusia yang berharga dan mulia. Dengan itu semua, kita bisa menemukan harga diri dan kemampuan mencapai ideal self kita sendiri. Tanpa unconditional positive regard kita tidak dapat mengatasi kekurangan kita dan tak dapat menjadi orng yang berfungsi sepenuhnya.
Rogers mengajarkan bahwa individu yang sehat adalah individu yang sehat adalah individu yang berfungsi sepenuhnya, yaitu yang telah mencapai keselarasan antara diri yang nyata (real self) dan diri yang dicita-citakan (ideal self). Jika ada penggabungan anatara apa yang orang rasakan tentang bagaimana dirinya dan apa yang mereka inginkan, mereka mampu menerima dirinya menjadi diri sendiri dan hidup sebagai diri sendiri tanpa konflik.
1.      Pendekatan Rogers Terhadap Kepribadian
Tema pokok pemikiran Rogers adalah suatu refleksi tentang apa yang dipelajarinyanmengenai dirinya pada rentang usia 18-20 tahun: bahwa seseorang harus bersandar pada pengalamannya sendiri tentang dunia, karena hanya itulah kenyataan yang dapat diketahui oleh seorang individu.
Harus dipahami bahwa Rogers bekerja dengan individu-individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Untuk merawat pasien-pasien ini (yang selanjutnya disebut Rogers sebagai klien), dia mengembangkan suatu metode trapi yang menempatkan tanggungjawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien, bukan pada ahli terapi (seperti biasa dilakukan oleh penganut Freud). Oleh karena itu, pendekatannya disebut “terapi yang berpusat pada klien” (client-centered therapy). Metode ini menganggap bahwa individu yang terganggu memiliki suatu tingkat kemampuan kesadaran tertentu, dan mengatakan kepada kita banyak hal tentang pandangan Rogers mengenai kodrat manusia.
Menurut Roger, manusia yang rasional dan sadar, tidak terkontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak karena masa itu sudah kewat seperti pembiasaan akan kebersihan buang air kecil atau buang air besar, penyapihan yang lebih cepat atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Hal-hal ini tidak menghukum atau membelenggu kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat dikontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting daripada berlarut-larut mengingat masa lampau. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita. Jadi, pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak adalah penting, tetapi focus Rogers tetap pada apa yang terjadi terhadap seseorang hari ini, saat sekarang, bukan pada apa yang terjadi waktu lampau.
2.      Motivasi Orang yang Sehat adalah Aktualisasi
Menurut Rogers dorongan adalah ‘satu kebutuhan fundamental’. Rogers menempatkan suatu dorongan dalam sistemnya tentang kepribadian, meliputi pemeliharaan, mengaktualisasikan, dan meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan ini dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis danpsikologis, meskipun selama tahun-tahun awal kehidupan, kecenderungan tersebut lebih terarah kepada segi-segi fisiologis.
Baginya tidak ada segi pertumbuhan dan perkembangan manusia beroperasi secara terlepas dari kecenderungan aktualisasi ini. Aktualisasi bisa berbuat jauh lebih banyak daripada mempertahankan organisme, aktualisasi juga memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Contohnya jika bayi bertambah besar, organ-organ tbuh dan proses-proses fisiologis menjadi semakin kompleksdan berdiferensiasi karena bayi tersebut fisiknya mulai berfungsi dalam arah-arah yang kompleks. Proses pematangan ini mulai dengan perubahan-perubahan dalam ukuran dan bentuk dari bayi yang baru lahir sampai pada perkembangan sifat-sifat jenis kelamin sekunder pada masa remaja.
Rogers berpendapat, bahwa kecenderungan untuk aktualisasi sebagai suatu tenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan perjuangan, serta setiap dorongan yang ikut menghentikan usaha untuk beerkembang.
Rogers percaya bahwa segi kecenderungan aktualisasi ini dapat ditemukan dalam semua makhluk yang hidup. Binatang-binatang, pohon-pohon, dan bahkan ganggang laut memilikinya, sebagaimana dilukiskan Rogers dalam gaya puitis:
            “Di sini dalam ganggang laut yang serupa pohon palm, terdapat kegigihan hidup, dorongan hidup untuk maju, kemampuan untuk masuk ke dalam suatu lingkunagn yang benar- benar bermusuhan dan tidak hanya mempertahankan dirinya, tetapi juga menyesuaikan diri, berkembang, dan menjadi dirinya sendiri.”
Intinya, aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan belajar, khususnya dalam masa kanak-kanak. Agaknya, ‘konvergensi’ merupakan ‘potret’ yang dapat mewakili gambaran perkembangan ini, karena individu tumbuh tidak semata-mata ‘berselimutkan tabula rasa’, tetapi dalam perkembangannya faktor ‘lingkungan’ (environment) juga memiliki andil yang besar.
3.      Perkembangan Diri
Rogers mengilustrasikan perkembangan diri manusia seperti berikut: Ketika individu masih kecil, sebagai anak-anak ia mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari pengalaman yang lain. Segi ini adalah ‘diri’ dan itu digambarkan dengan bertambahnya penggunaan kata ‘aku’ dan ‘kepunyaanku’. Anak itu mengemangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba, dan diciumnya ketika dia mulai membentuk suatu lukisan dan gambar tentang siapa dia. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu ‘pengertian diri’ atau self concept. Sebagai bagian dari self concept, anak itu juga menggambarkan dia akan menjadi siapa atau ingin menjadi siapa.
Cara-cara khusus bagaimana ‘diri’ itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak, tergantung pada cinta dan kasih sayang yang diterima anak itu di masa kecil. Penerimaan cinta ini utamanya dari ibu, dan dari bapak, tetapi bisa juga dari pengasuhan orang dewasa lain, misalnya pengasuh bayi, kakek nenek, atau pembantu. Pada waktu ‘diri’ itu berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini ebagai ‘penghargaan positif’ atau positive regard. Positive regard merupakan suatu kebutuhan yang bisa memaksa dan merembes, dimiliki oleh semua manusia, setiap anak terdorong untuk mencari ‘penghargaan positif’.
4.      Karakteristik aktualisasi-diri
Ada 3 hal penting menurut Rogers jika seseorang ingin memahamin aktualisasi-diri. Yaitu :
1.      Aktualisasi-diri berlangsung terus menerus
2.      Aktualisasi-diri erupakan suatu proses yang sukar
3.      Aktualisasi-diri menjadikan orang menjadi diri mereka sendiri
Hal pertama, Rogers meyakini bahwa kepribadian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu peroses, atau ‘suatu arah bukan suatu tujuan’. Aktualisasi diri berlangsung terus, tidak pernah meruoakan suatu kondisi yang selesai atau statis. Tujuannya yakni orientaso ke masa depan, atau menarik individu ke depan, yang selanjutnya mendiferensasikan dan mengembangkan segala segi dari ‘diri’.
Hal kedua, aktualisasi-diri itu merupakan suatu proses yang sukar dan kadang kadang menyakitkan. Aktualisasi-diri merupakan suatu ujian, rintangan, dan cambuk yang muncul terus menerus terhadap semua kemampuan seseorang. Menurut Rogers, “aktualisasi-diri merupakan keberanian untuk ada”. hal ini berarti, “seseorang meluncurkan diri sendiri sepenuhnyakedalam arus kehidupan”.
Hal ketiga, bahwa orang orang yang mengaktualisasikan diri, mereka benar benar menjadi diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi di belakang topeng-topeng , yang berpura pura menjadi sesuatu yang bukean diri mereka, atau menyembunyikan sebagian diri mereka. Mereka mengetahui bahwa mereka dapat berfungsi sebagai individu-individu dalam sanksi-sanksi dan garis-garis pedoman yang jelas dari masyarakat.
5.      Orang yang berfungsi sepenuhnya
Menurut rogers ada 5 sifat orang yang berfungsi sepenuhnya. Yaitu :
1.      Adanya keterbukaan pada pengalaman
Seseorang yang tidak terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tidak satu pun yang harus dilawan karna tidak ada satupun yang mengancam. Jadi, keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif. Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan dari luar disampaikan ke sistem syaraf organisme tanpa rintangan.
2. Berada dalam kehidupan eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya,senantiasa hidup dalam momen kehidupan. Setiap pengalaman dirasakan segar dan baru. Sesuatu yang dialami seperti sebelumnya belum pernah ada, kemudian direspon dengan cara yang tidak persis sama. Maka dalam setiap momen kehidupan selalu ada kegembiraan, karen setiap pengalaman dapat tersingkap secara segar.
3. Adanya kepercayaan terhadap organisme diri sendiri
Prinsip ini mungkin paling baik dipahami dengan menunjuk pada pengalaman rogers sendiri . Dia menyatakan “ Apabila aktivitas seakan-akan berharga maka aktivitas itu perlu dilakukan. Sebaliknya , jika suatu aktivitas dirasa tidak berharga maka aktivitas itu tidak perlu dilakukan.Saya telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik saya terhadap suatu situasi lebih dapat dipercaya dari pada pikiran saya “
4.  Memiliki perasaan bebas
Rogers percaya semakin seseorang sehat secara psikologis, maka semakin ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan atau rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan.
5. Senantiasa kreatif
Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Mengingat sifat-sifat yang mereka miliki, sukar untuk melihat bagaimana seandainya kalau orang ini tidak demikian kreatif. Menurut rogers orang-orang yang terbuka sepenuhnya kepada semua pengalaman, yang percaya akan organisme mereka sendiri, yang fleksibel dalam keputusan dan tindakannya, ialah orang-orang yang akan mengungkapkan diri mereka dalam produk-produk yang kreatif ,serta kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupannya. Mereka bertingkah laku spontan, senantiasa berubah ,bertumbuh dan berkembang sebagai respons atas stimulus – stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitar mereka.

E.     Peran Terhadap Pengembangan
Teori ini mengajarkan orang untuk percaya pada diri sendiri dan menerima tanggungjawab untuk pengembangan potensi penuhnya. Humanis juga menekankan bahwa orang memiliki kebutuhan manusia ysng nyata yang harus terpenuhi untuk pertumbuhan dan perkembangan.
Rogers membedakan dua tipe belajar yaitu:
1.      Kognitif (kebermaknaan)
2.      Experiential (pengalaman atau signifikansi)

Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1.      Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan  yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2.      Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
3.      Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4.      Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belaar tentang proses.
Dalam bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistic  yang penting diantaranya ialah:
a.       Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami
b.      Belajar yang signifikan terjadi apbila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c.       Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d.      Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimiliasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e.       Apabila ancaman terhadap diri siswa redah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f.       Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g.      Belajar diperlancar bilaman siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h.      Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i.        Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih  mudah  dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengeritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
j.        Belaar yang paling berguna secara social di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
Salah satu model pendidikan terbuk mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck (1975), mereka meneliti kemampuan para guru untuk menciptakan kondisi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah:
1.      Merespon perasaan siswa
2.      Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi  yang sudah dirancang
3.      Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4.      Menghargai siswa
5.      Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6.      Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk memantapkan kebutuhan segera dari siswa)
7.      Tersenyum pada siswa

F.     Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembngkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah:
1.      Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
2.      Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif
3.      Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
4.      Mendorong siswa untuk peka, berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5.      Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkannnya dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
6.      Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normative tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya
7.      Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
8.      Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.
Pembelajaran berdasarkan teori humanistic ini cocok untuk diterapkan untuk materi-materi pembelajaran yang bersift pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena social. Indicator dari keberhasilan aplikasi iini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola piker, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku.







BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Carl R. Rogers (Seri Tokoh Psikologi Humanistik) - Carl Ransom Rogers (8 Januari 1902 - 4 Februari 1987) adalah seorang psikolog Amerika yang berpengaruh di antara para pendiri psikologi dengan pendekatan humanistik. Rogers secara luas dianggap sebagai salah satu pendiri penelitian psikoterapi.
Carl Rogers adalah seorang psikolog yang terkenal dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered). Rogers kemudian menyusun teorinya dengan pengalamannya sebagai terapis selama bertahun-tahun. Teori Rogers mirip dengan pendekatan Freud, namun pada hakikatnya Rogers berbeda dengan Freud karena Rogers menganggap bahwa manusia pada dasarnya baik atau sehat. Dengan kata lain, Rogers memandang kesehatan mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara penyakit jiwa, kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain dipandang sebagai penyimpangan dari kecenderungan alamiah.
Teori Rogers didasarkan pada suatu "daya hidup" yang disebut kecenderungan aktualisasi. Kecenderungan aktualisasi tersebut diartikan sebagai motivasi yang menyatu dalam setiap diri makhluk hidup dan bertujuan mengembangkan seluruh potensinya semaksimal mungkin. Jadi, makhluk hidup bukan hanya bertujuan bertahan hidup saja, tetapi ingin memperoleh apa yang terbaik bagi keberadaannya. Dari dorongan tunggal inilah, muncul keinginan-keinginan atau dorongan-dorongan lain yang disebutkan oleh psikolog lain, seperti kebutuhan untuk udara, air, dan makanan, kebutuhan akan rasa aman dan rasa cinta, dan sebagainya.
Selain itu, Carl R. Rogers adalah seorang ahli psikologi humanistik yang gagasan-gagasannya berpengaruh terhadap pikiran dan praktek psikologi di semua bidang, baik klinis, pendidikan, dan lain-lain. Lebih khusus dalam bidang pendidikan, Rogers mengutarakan pendapat tentang prinsip-prinsip belajar yang humanistik, yang meliputi hasrat untuk belajar, belajar yang berarti, belajar tanpa ancaman yang humanistik, yang meliputi hasrat untuk belajar, belajar yang berarti, belajar tanpa ancaman, belajar atas inisiatif sendiri, dan belajar untuk perubahan (Rumini,dkk. 1993).

DAFTAR PUSTAKA

Aus Nasiban, Ladisi. 2004. Para Psikolog Terkemuka Dunia. Jakarta: Grassindo.
MIF Baihaqi. 2008. Psikologi Pertumbuhan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
George Boeree. 2008. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta: Prismasophie. Hal.64-65
Ratna Syifa’a Rachmahana. Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan. Hal. 101-103

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar